Kajian   Leave a comment

Kuncinya di kreativitas

 


Kreativitas selama ini memang menjadi kunci yang selalu dipegang Nur Handiah. Selama ini saingan berat bisnisnya adalah para perajin dari Filipina yang telah lebih dulu terjun dalam industri kulit kerang.

Nur memang sempat menyewa desain khusus. Namun, ia akhirnya lebih memilih belajar mendesain sendiri karena selama ini desainnya ternyata juga bisa diterima di pasaran internasional.

Bukan hal yang mudah menciptakan barang yang laku di pasaran. Demi sebuah ide, Nur harus meluangkan waktu untuk belajar, membuka wawasan, membaca berbagai rubrik desain, dan menyempatkan diri untuk berkontemplasi, bahkan survei.

Promosinya dalam mengenalkan kerajinan kulit kerangnya juga tak terbatas di dalam ruang pamer. Ketika harus bertemu dengan orang lain, perempuan yang selalu berpenampilan rapi ini mengenakan berbagai pernak-pernik dari kulit kerang, mulai dari aksesori hingga tas tangan. Semuanya agar langsung diketahui orang lain. Bahkan, rumahnya pun berhias kulit kerang.

Ia juga memutar otak untuk bisa membuat barangnya tetap terjangkau di pasaran. Dengan trik desain tertentu, sebuah sofa berhiaskan kulit kerang bisa berharga lebih murah dibandingkan dengan sofa yang dibuat oleh perajin dari Filipina. Dengan berbagai jalan itulah ia mampu bersaing dengan perajin luar negeri lain meski baru saja memulai bisnis sepuluh tahun lalu.

Nur mengakui, bisnisnya memang sempat surut ketika dunia digoyang krisis ekonomi akhir tahun 2008 hingga awal tahun 2009. Meski demikian, pasarnya tidak mati.

Permintaan dari Amerika Serikat memang berkurang, tetapi Eropa tetap memberikan tempat bagi kerajinannya. Kini pasar kerajinannya di Amerika Serikat berangsur-angsur pulih.

Di dalam negeri sendiri, kerajinan kulit kerang belum banyak ditiru oleh perajin lain. Padahal, bahan baku sangat mudah didapati. Nur tidak pernah kesulitan mendapatkan 60 ton kulit kerang setiap bulan untuk bahan bakunya. ”Mungkin orang mengira ini kerajinan dari sampah sehingga kurang menarik, mungkin juga karena keuntungannya kecil,” katanya merendah.

Meski demikian, Nur mengaku tetap setia pada kulit kerang. Menurutnya, yang penting bukan dari mana bahannya, tetapi jadi apa hasilnya. Bagi Nur, sampah bisa menjadi apa saja tergantung dari cara merawatnya. Jika dibuang, akan menjadi sampah. Namun, jika dirawat, bisa lebih berguna, misalnya kulit kerang bisa dinilai dalam dollar AS seperti apa yang telah ia lakukan.

Tak hanya Nur Handiah, kerajinan yang menggunakan bahan baku kulit kerang Kabupaten Cirebon juga banyak dipasarkan ke Spanyol karena permintaan barang tersebut di negeri itu cukup tinggi.

Ekspor kerajinan kulit kerang ke Spanyol antara dua hingga empat kontainer per bulan, kata Kadinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon Drs. Haki MSi didampingi Kabid Perdagangan dan Promosi Maman Suparman kepada wartawan di Sumber (Kabupaten Cirebon).

Ia mencontohkan, Januari lalu ekspor kerajinan kulit kerang ke Spanyol sebanyak empat kontainer senilai US$34,688,93 dan pada Februari hanya dua kontainer senilai US$43,977.27.

Ekspor Pebruari tampaknya menurun, tetapi nilainya jauh meningkat. “Itu disebabkan kualitas barang ekspor itu menunjukkan nilai yang tinggi,” katanya.

Maman menambahkan, kerajinan kulit kerang di Kabupaten Cirebon tersebut bahan bakunya berasal dari Surabaya, Bali dan NTB.

Pengrajinnya pun berasal dari Palembang. “Jadi Kabupaten Cirebon tersebut sangat kondusif untuk mengembangkan kerajinan seperti kulit kerang,” katanya.

Berbagai kerajinan kulit kerang yang diekspor tersebut seperti hiasan pintu, gorden dan hiasan lainnya.

Mengenai bahan baku tampaknya tidak mengalami kesulitan karena kulit kerang ada sepanjang tahun, sehingga tiap bulan bisa memenuhi permintaan importir luar negeri.

“Kerajinan kulit kerang itu agaknya bisa dilakukan setiap saat dan tidak bergantung pada musim,” tambahnya.

Begitu juga dengan di Bandung, Bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki kreativitas yang mumpuni. Berbagai produk hasil kreasi bangsa Indonesia telah banyak dihasilkan, bahkan terkadang diakui luas oleh masyarakat dunia.

Melalui kreativitas itu, muncul ide-ide baru nan segar yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, seperti halnya yang dilakukan oleh Aditya Prima.

Berkat kreasinya, Aditya mampu menyulap kulit kerang menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi. Di tangannya, kulit kerang tak lagi hanya menjadi limbah laut yang tidak ada harganya.

Beragam produk kerajinan dari kulit kerang telah mampu dihasilkannya, mulai dari hiasan dinding, kap lampu, tempat tisu, sampai beragam bentuk kerajinan lainnya.

Aditya merintis usaha bersama sang kakak, Ade Padilah. “Usaha ini merupakan usaha keluarga,” ujar Aditya kepada SH di sebuah pameran kerajinan di Bandung belum lama ini.

Telah 20 tahun lamanya Aditya dan Ade merintis usaha ini. Belum banyaknya produk kerajinan yang menggunakan bahan baku kulit kerang menjadi pertimbangan keduanya terjun ke kerajinan kulit kerang.

Padahal, sebagai negara maritim, Indonesia memiliki potensi kerang yang cukup besar. Dan, kulit kerang tersebut masih dianggap sebagai limbah laut yang belum ada nilai ekonomisnya.

Dengan dibantu lima pekerjanya, Aditya mengolah kulit kerang menjadi produk bernilai ekonomis tinggi di bilangan Bekasi Timur. Menurutnya, produk kerajinan kulit kerangnya dijual dengan harga berkisar antara Rp 15.000-450.000.

Produk kerajinan kulit kerang ini telah merambah pasar seluruh Nusantara. “Ekspor belum dilakukan karena terkendala bahan baku,” ungkap Aditya. Permintaan ekspor memang mulai diterima oleh Aditya, seperti ke Amerika Serikat dan Dubai, tetapi sayangnya permintaan itu tidak dapat dipenuhi.

Bahan baku, terutama pasir pantai yang terbatas, menjadi kendalanya. Aditya menyebutkan, pasir pantai dibutuhkan sebagai variasi dari produk kerajinan kulit kerangnya.

Pasir pantai yang dipergunakan jenisnya berbeda dibandingkan pasir pantai kebanyakan. Pasir pantai ini harus didatangkan dari Nusa Tenggara Barat (NTB).

Volume pasir pantai dari NTB sangat terbatas. Hal itulah yang menjadi kendala Aditya bisa memenuhi permintaan ekspor. Kalau untuk bahan baku kulit kerang, tidak ada masalah. Selalu ada stok yang mencukupi,” timpal Aditya. Kulit kerang diperoleh dari nelayan di Cilacap, Pangandaran, maupun Palabuhan Ratu.

Posted October 20, 2011 by hms2701firdaus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: